Kediri, Lombok Barat, NTB — Institut Agama Islam Nurul Hakim Kediri, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, turut mengambil bagian dalam 6th Graduate International Conference (GIC) yang mengangkat tema “Transforming Islamic Boarding School in a Changing World: Islamic Tradition, Character Building, and Global Citizenship in Kota Santri, Kediri, West Lombok, Indonesia.”
Konferensi internasional ini menjadi ruang akademik untuk mendiskusikan dinamika dan masa depan lembaga pendidikan Islam, khususnya pesantren, dalam menghadapi perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta tuntutan globalisasi. Tema yang diangkat menegaskan pentingnya menjaga tradisi keislaman sekaligus memperkuat pendidikan karakter dan kesiapan santri sebagai bagian dari masyarakat global.
Dalam forum tersebut, Ustaz Weli Arjuna Wiwaha, M.Pd.I., Wakil Rektor I Institut Agama Islam Nurul Hakim Kediri Lombok Barat NTB sekaligus dosen Prodi PAI, menyampaikan pandangan mengenai pentingnya transformasi pesantren yang tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman dan tradisi pendidikan pesantren.
Menurutnya, pesantren tidak cukup hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga perlu melakukan adaptasi terhadap perubahan zaman. Transformasi tersebut harus diarahkan untuk memperkuat kualitas pendidikan, membangun karakter santri, serta menyiapkan generasi yang memiliki wawasan global tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai keislamannya.
“Pesantren memiliki kekuatan besar pada tradisi, nilai keagamaan, dan pembentukan karakter. Tantangannya adalah bagaimana kekuatan tersebut dapat ditransformasikan agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman, tanpa kehilangan jati diri pesantren,” ujar Ustaz Weli.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pendidikan pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk global citizenship atau kewargaan global. Santri diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan akademik dan keagamaan, tetapi juga mampu berinteraksi dengan masyarakat yang beragam, memiliki kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan dan lingkungan, serta mampu berkontribusi dalam kehidupan global.
Konsep transformasi pesantren, menurutnya, perlu dibangun melalui keseimbangan antara Islamic tradition, character building, dan global citizenship. Tradisi Islam menjadi fondasi nilai, pendidikan karakter menjadi kekuatan pembentukan kepribadian, sedangkan wawasan kewargaan global menjadi bekal santri dalam menghadapi perubahan dunia.
Kehadiran tema “Kota Santri, Kediri, West Lombok, Indonesia” juga menjadi penegasan bahwa pesantren di daerah memiliki kontribusi penting dalam perkembangan pendidikan Islam, baik pada tingkat nasional maupun internasional. Pesantren tidak hanya menjadi pusat pembelajaran agama, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter, budaya, dan peradaban.
Melalui 6th Graduate International Conference, diharapkan lahir gagasan-gagasan akademik yang dapat memperkuat transformasi pendidikan pesantren agar semakin adaptif, inovatif, inklusif, dan berdaya saing global, sekaligus tetap mempertahankan nilai-nilai luhur tradisi Islam.
Bagi Institut Agama Islam Nurul Hakim Kediri, keterlibatan dalam forum internasional tersebut menjadi bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam memperkuat tradisi akademik, memperluas jejaring internasional, serta menghadirkan pemikiran-pemikiran baru bagi pengembangan pendidikan Islam dan pesantren di tengah perubahan dunia.

